Surat Roma

Cara terbaik mempelajari Alkitab adalah kitab per kitab. Alkitab adalah keputusan kitab-kitab, dan dengan demikian setiap kitab dari kepustakaan ini perlu dilihat sebagai unit tersendiri, dengan oengarangnya sendiri, periode waktunya sendiri, jenis sastranya sendiri, dan ditulis untuk sidang pembaca tertentu. Perhatian kepada hal ini menolong banyak orang yang mempelajari Surat Roma yang lupa bahwa ini adalah surat, sehingga mereka gagal bertanya jenis pertanyaan yang akan membuka arti dan tujuannya.

Meski surat sangat mahal dan sukar mengirimnya dalam zaman Romawi, sekitar 14,000 surat telah ditemukan leh para arkeolog dari periode ini. sebuah surat biasanya terdiri dari antara 20 sampai 200 kata, yang panjangnya sebagian ditentukan oleh fakta bahwa surat dibawa dan disampaikan oleh orang yang sama, jadi beratnya berpengaruh. Surat yang lebih panjang jarang ada. Surat paling panjang dari Cicero adalah 2,500 kata, dan surat Seneca yang 4,000 kata adalah catatan segala masa. Rata-rata surat Paulus adalah 1,3000 kata, tetapi suratnya untuk jemaat di Roma ini lebih dari 7,000 kata, suratnya yang paling panjang. Bahkan ini yang paling panjang yang kita punya dari dunia purba.

Meski banyak yang telah membayangkan bahwa Surat Roma adalah karya teologis yang jauh dari kegiatan misionaris Paulus, analisis menunjukan bahwa surat ini sangat praktis. Dalam menjawab pertanyaan menjengkelkan disekitar keesaan Gereja, surat ini menyediakan wawasan tentang bagaimana Gereja harus tumbuh dari akar-akar Yahudinya, sambal pada saat sama menyediakan penjernihan tentang isu-isu kunci tentang iman bagi umat Tuhan dalam setiap generasi. Dalam keadaan sedemikian ini adalah maha karya pemikiran logis dan jelas banyak orang merasa bahwa  ini adalah tulisan Paulus paling bagus. Banyak orang Kristen yang menghafal Surat Roma, ia telah diperlakukan sedemikian pentingnya. Karenanya ini adalah kitab kunci untuk setiap orang percaya boleh memahaminya.